Lazada Indonesia
Jumat, 01 Agustus 2014

SERABI, KUDAPAN YANG BIKIN HAPPY :)

Serabi atau srabi atau surabi, seolah jajanan endemik Pulau Jawa. Dari ujung barat hingga timur pulau ini. kita bisa menemukan berbagai jenis variannya. Mulai dari yang masih polos hingga yang sudah berdandan, dihiasi berbagai warna dan beraneka rasa.

Banyak yang menyebutnya panekuk dari Jawa, tapi buat saya, pancake-nya orang barat itu yang serabinya Eropa :)

Di Tanah Sunda, Surabi dinikmati dengan telur yang diletakkan di atasnya. Bagi yang pernah nonton Film Petualangan Sherina, mungkin ingat dengan adegan makan serabi langsung dari penjualnya yang nongkrong di rumah Sadam. Masih di Jawa Barat, kita juga akan menemukan Surabi yang nuansanya lebih nge-pop, bertoping berbagai saus buah-buahan, keju, susu, coklat, bahkan es krim. 

Sementara di Jogja, kita akan berjumpa dengan Serabi Kocor. Cara menikmatinya adalah dengan dicampur kuah santan yang gurih manis sedap. Mari ke Solo sejenak, saudara kandung Jogja ini juga punya Serabi. Namanya Serabi Solo, meski sejak kecil saya lebih akrab dengan nama Serabi Inggris. Bapak saya yang memperkenalkannya, buah tangan saat beliau mempir ke Solo dalam perjalanan pulang dari Jogja. 

Baca selengkapnya....

MAS MARCO, JURNALIS BENGAL DARI CEPU

Kampung halamanku ini rupanya pernah melahirkan putera pembangkang, paling tidak begitulah sejarah penguasa menganggap. Salah satunya adalah Marco Kartodikromo, jurnalis radikal yang gemar melakukan tur penjara, dari satu sel ke sel yang lain akibat tulisannya yang kerap menampar muka Pemerintah Kolonial Belanda.

Mas Marco, begitu dia biasa dipanggil, lahir di Cepu pada tahun 1890. Tanggal berapa dan bulan apa, tak ada catatan pasti (ada yang mengatakan tanggal 25 Maret). Tak seperti para tokoh pergerakan pada umumnya yang lahir dari keluarga priyayi dan mengenyam pendidikan tinggi, Mas Marco tak pernah merasakan bangku STOVIA, HBS, atau ELS. Dia hanya lulus Sekolah Ongko Loro (De Scholen der Tweede Klasse) di Bojonegoro, sekolah bagi bumiputera rendahan anak-anak para petani, buruh, dan sejenisnya.

Pendidikan rendah tak kemudian membuatnya terbelakang, karena ilmu tak hanya didapat dalam gedung-gedung institusi pendidikan. Bagi Mas Marco, bumi adalah sekolah, kondisi sosial masyarakat menjadi laboratorium, dan siapa saja bisa menjadi gurunya. Dia seperti ikan yang melahap jutaan plankton tak terlihat di dalam air.  Baca selengkapnya...
Rabu, 28 Mei 2014

Batik Tulis Blora

Selama ini, hampir di sejumlah daerah di Jateng, memiliki motif batik khas masing-masing, termasuk Kabupaten Blora juga memiliki batik tulis khas. Meskipun belum setenar daerah lainnya, batik khas Blora juga mulai diminati konsumen dari berbagai daerah di Tanah Air. Bahkan, wisatawan mancanegara juga mulai tertarik dengan motif batik khas Blora.

Berdasarkan hasil penulusuran, motif-motif batik khas Blora umumnya hampir sama dengan motif batik Surakarta, yaitu kembang manggar, semen romo (sulur-sulur kembang), dan lar (bulu). Selanjutnya, dikembangkan motif batik khas Blora, seperti motif daun jati dan mustika yang mengandung filosofi hidup dan etos kerja.

Motif batik baru tersebut, diperkenalkan pada 2008, sebagai simbol potensi Blora yang 40 persen luasan wilayahnya merupakan hutan jati. Selanjutnya, pada 2009 pemda setempat mendesain batik mustika yang mengusung kekhasan Blora, seperti kilang minyak, barongan, tayub, satai, Sedulur Sikep atau Samin, dan daun jati. Baca selengkapnya...

Wisata Pemandian Sayuran Blora

Obyek Wisata Pemandian termasuk obyek wisata yang sangat ramain dikunjungi oleh wisatawan,mereka dapat berenang,bermain air dan juga sebagai sarana hiburan jika merasa bosan dengan kegiatan rumah.Termasuknya adalah Wisata Pemandian Sayuran yang sangat Indah danjuga berhawa atau bersuasana sangat sejuk dan segar sehingga banyak pengunjung dan wisatawan yang sangat betah karena kenyamanannya di Pemandian yang satu ini,biasanya obyek wisata ini dikunjungi oleh masyarakat Blora sendiri maupun orang dari luar kota yang sengaja berkunjung ke sini.

Pemadnian Sayuran ini memiliki 2 buah kolam renang,yang satu untuk orang dewasa dengan panjang kolam 50 meter dan lebar kolam renang 17 meter pada kolam dewasa ini dibedakan tingkat kedalamannya  dari 90 cm hingga 360cm,sedangkan untuk kolam anak anak memiliki kedalaman kolam 60 cm.Objek wisata ini memiliki luas tempat hingga 6,6 hektar dan juga objek wisata ini berada di wilayah perbukitan dengan ketinggian 250 meter diatas permukaan laut sehingga memiliki hawa sejuk dan segar. Baca selengkapnya...

Wisata Pegunungan Manggir Di Blora

Bagi anda yang ingin berwisata dengan tema yang sejuk dan menyenangkan,Pegunungan Manggir yang terletak di Kota Blora ini menjadi pilihan tepat berwisata anda,udaranya yang sejuk dan segar membuat orang betah berlama lama di tempat itu.Wilayah pegunungan ini sangat cocok pula bagi anda yang ingin mencari referensi mengenai kondisi alam karena terdapat banyak makhluk hidup yang ada disitu.

Keindahan alam dan pemandangan yang sangat indah menjadi alasan untuk mengunjungi pegunungan ini, karena jika dilihat dari ketinggian maka pemandangan yang luar biasa akan nampak di mata kita.Tempat wisata ini terletak di perbukitan Manggir, desa Ngumbul Kecamatan Todanan, + 38,5 km daerah barat dari kota Blora atau + 3,5 km ke arah barat dari obyek wisata Goa Terawang,jadi jika anda mengunjungi wisata Goa Terawang,maka anda bisa langsung menuju ke Pewgunungan Manggir karena jarak tempuhnya tidak terlalu jauh.
Baca selengkapnya...

Kecamatan Cepu

Nama Cepu sebagai sebuah daerah sudah terdengar sejak zaman Panembahan Senopati (Raja Mataram I), tepatnya saat terjadinya perebutan puteri Madiun yang bernama Retno Dumilah.
Ada juga kisah penamaan Cepu diambil dalam kisah Aria Penangsang, yaitu pada saat pertempuran antara Jipang Panolan dan Pajang di pinggiran bengawan Solo, alkisah ada seorang prajurit Panolan (ada kisah bukan prajurit biasa melainkan sang Arian Pengangsang sendiri) yang tertancap tombak di pahanya, dalam bahasa Jawa Tancap = nancep, paha = pupu,berasal dari dua kata tersebutlah kata Cepu.
Pada zaman penjajahan, Cepu merupakan salah satu kota penting, karena kandungan minyak dan hutan jatinya. Di Cepu dapat dijumpai beberapa bangunan peninggalan Belanda yang masih awet hingga masa kini. Salah satu bangunan yang unik adalah, loji klunthung. Peninggalan lain yaitu Gedung Pertemuan SOS Sasono Suko dan Kuburan Belanda (Kuburan Londo) yang terletak di desa Wonorejo Kelurahan Cepu. Baca Selengkapnya...
Jumat, 23 Mei 2014

Waduk Tempuran

Waduk Tempuran merupakan objek wisata yang ada di blora. Meskipun hanya berupa waduk, namun tidak pernah sepi di kunjungi oleh wisatawan lokal karena suasananya yang tenang dan tidak jauh dari kota. Meskipun demikian, waduk tempuran menjadi tempat favorit untuk mengisi akhir minggu dengan menyaksikan pemandangan alam disekitar waduk yang sangat indah.
Waduk Tempuran menjadi alternatif berwisata alam yang murah bagi wisatawan lokal karena lokasinya yang mudah dijangkau dengan alat trasportasi. Meskipun berupa waduk, bukan berarti tidak ada fasilitas yang akan memanjakan jika sedang berkunjung.Anda dapat menikmati kuliner khas blora di sebuah kafe di pinggir waduk dan mendengarkan alunan lagu-lagu merdu dari biduan yang diiringi dengan organ tunggal. Sedangkan untuk anak-anak dapat menikmati wahana air berupa water-boom. Selanjutnya...

Samin Surosentiko

Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.

Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial. Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro.

Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.
Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914. Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan baberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.   Selanjutnya....
Kamis, 07 November 2013

Indahnya goa terawang di Blora



Indahnya goa terawang di Blora wisata Goa Terawang merupakan kompleks goa yang memiliki enam goa dalam satu kawasan, ini terbanyak di Jateng. Di dalam kawasan seluas 13 hektar itu terdapat satu goa induk, satu sendang, dan lima goa kecil lainnya. Goa ini merupakan satu-satunya goa yang di dalamnya terang di siang hari karena terkena sinar matahari. Di kompleks Wanawisata Goa Terawang terdapat kawasan arena bermain anak yang terletak 50 meter dari mulut Goa Terawang yang terasa sejuk karena dipayungi ratusan pohon jati besar.

Lokasinya berjarak 32 kilometer arah barat Kota Blora atau 107 kilometer dari Kota Semarang.Untuk mencapai Goa Terawang sudah tersedia jalan desa yang mulus, dapat ditempuh dari Semarang-Purwodadi-Wirosari menuju ke Kunduran Kabupaten Blora. Tepat di pertigaan depan Puskesmas Kunduran, pengunjung bisa belok kiri melintasi jalan desa yang mulus sepanjang lebih kurang 8 kilometer. Kawasan wisata Goa Terawang berada persis di tepi jalan. Kalau dari Blora, pengunjung menuju ke arah pertigaan Pasar Ngawen, kemudian membelok ke kanan melintasi jalan menuju ke Japah, Padaan, Ngapus, hingga tiba di Todanan atau sekitar 10 kilometer. Baca selengkapnya...


Wisata Geologi Sumur Minyak Tua Blora


Obyek wisata geologi Sumur Minyak Tua adalah merupakan wisata alam atau kegiatan wisata dibidang ilmu kebumian dengan obyek berupa lokasi yang berkaitan erat hasil proses geologi yang terkandung dan tersimpan didalam alam antara lain Geologi Wisata yang berhubungan dengan minyak dan gas bumi.

Wisata Geologi ini kebanyakan berada di perbukitan dan ditengah-tengah kawasan hutan jati yang lebat yang berada diwilayah Kabupaten Blora, dan sekitarnya, namun sangat mudah dijangkau baik dangan kendaraan roda dua ataupun dengan roda empat. Sumur minyak dan gas bumi di wilayah Kabupaten Blora yang pertama kali di ketemukan oleh BPM pada tahun 1890, jumlah sumur sekitar 648 buah, 112 buah sumur diantaranya dapat memproduksi minyak kurang lebih 16.550.790 m2, sedangkan ladang gas bumi yang berada di wilayah Cepu terdapat di Balun dan Tobo. Baca Selengkapnya...


Obyek Wisata Waduk Greneng Blora



Obyek Wisata Waduk Greneng Blora merupakan sebuah tempat Obyek Wisata Alam berupa Waduk terletak didukuh Greneng desa Tunjungan Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora + 12 km kearah barat laut dari Kota Blora. Obyek Wisata ini mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai fungsi utama irigasi tanah pertanian dan pembesaran ikan air tawar. Karena letak dan lokasinya yang begitu indah dan menarik, serta berlatar belakang dekat dengan hutan Wilayah KPH Mantingan yang menambah suasana berkesan keindahan pemandangan alamnya, sehingga Obyek Wisata Waduk Greneng juga merupakan Obyek Wisata yang banyak dikenal oleh masyarakat baik dari dalam maupun dari luar kota, khususnya kaum remaja yang mempunyai hoby memancing.




Obyek Wisata Waduk Greneng Blora mempunyai hamparan yang sangat luas + 45 ha dengan terdapat beberapa macam / jenis air tawar, sehingga banyak masyarakat setempat yang menjajakan ikan hasil tangkapannya, dalam hal ini merupakan kegiatan yang dapat menambah semaraknya suasana waduk sekaligus sebagai daya tarik Obyek Wisata Waduk Greneng. Baca selengkapnya...

Museum Mahameru Blora


Museum Mahameru ini dibangun,” ungkap Ketua Yayasan Mahameru Blora Gatot Pranoto BE. Pada awalnya, dengan merekrut beberapa personel muda yang memiliki keinginan untuk pelestarian budaya dan sejarah, obsesi Mahameru masih ambyah-ambyah atau kurang terfokus. Begitu berdiri, tidak tanggung-tanggung langsung berbadan hukum. Kali pertama yang dilakukan sejumlah personel Mahameru adalah menelusuri literatur dan studi lapangan dengan obsesi menyusun buku sejarah Blora. Latar belakangnya, selama ini masih terlalu banyak versi penyusunan sehingga buku sejarah Blora ini belum diketahui ending-nya.




Didorong oleh keinginan terus maju, tidak puas dengan apa yang diraih saat ini, Yayasan Mahameru secara rutin menerjunkan tim penelusur dan pemantau benda-benda bersejarah ke seluruh pelosok di Blora. Fosil binatang raksasa, pecahan keramik dari negeri manca, bebatuan, tosanaji telah ditemukan tim ekspedisi itu. penemuan fosil kerbau purba yang diperkirakan sudah berusia 1 juta – 2 juta tahun lalu di Kecamatan Menden, Blora, kini tim Yayasan Mahameru Blora kembali menemukan fosil binatang purba jenis pemakan daging yang diperkirakan juga berusia jutaan tahun. Temuan fosil baru itu secara lisan telah dilaporkan ke Dinas Pariwisata Blora dan barangnya saat ini untuk sementara disimpan di Rumah Sejarah Blora. Baca selengkapnya...




Selasa, 05 November 2013

SEJARAH BLORA

ASAL USUL NAMA BLORA
Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti Lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA. Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah.. Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata.Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi BALORA dan kata BALORA akhirnya menjadi BLORA. Jadi nama BLORA berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur. Baca selengkapnya...



468x60
Sabtu, 02 November 2013

UNGKER



Makanan ekstreem dari Kabupaten Blora

Pernahkah anda mendengar nama ungker? HAMPIR dipastikan belum atau mungkin pernah dengar,tapi gak tau apa itu UNGKER, di kabupaten Blora yang terkenal dengan hutan jatinya, setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan atau laboh, warga di sekitar hutan mengalami panen ungker (kepompong dari ulat daun jati.) Sebutan bagi si kepompong ulat daun jati atau enthung. Walaupun tergolong hama, banyak orang menantikan kemunculan ungker. Bagi penggemarnya, ungker adalah makanan lezat, khas, dan kini kian langka yang hanya ada di Kabupaten Blora.


Di awal musim penghujan di bulan november hingga desember daun pohon jati akan mulai tumbuh setelah sebelumnya dimusim kemarau menggugurkan daunnya. Disaat daun jati bersemi itulah ulat-ulat mulai merajalela memakan daun jati hingga tersisa rangka-rangka daun jati sehingga pohon jati akan nampak gundul. Namun merajalela-nya ulat yang menghabiskan daun pohon jati justru merupakan salah satu berkah dari penduduk karena ulat tersebut ketika menjadi kepompong atau disana disebut dengan enthung/ ungker biasa dijadikan makanan yang lezat. Kepompong yang berwarna coklat tua ini dan berukuran satu hingga dua sentimeter ini biasa digoreng atau dioseng-oseng karena kaya akan protein. Rasanya pun sangat gurih dan renyah, namun terkadang makanan ini terasa gatal di lidah jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, terlebih ketika mengunyah bagian kulitnya. Bagi yang belum pernah mencoba, makanan ini akan terasa sedikit aneh di lidah dan terlihat sedikit jijik namun setelah mencoba dipastikan tak akan pernah melupakan rasanya. Baca selengkapnya...



Egg Roll Waluh


Ketika mendengar sebutan “Egg Roll”, tentunya kita akan teringat dengan sejumlah kamanan yang dijajakan di sejumlah toko makanan, bahkan sejumlah perusahaan terkenal juga memproduksinya juga dengan harga yang bervariasi. Akan tetapi, “egg roll waluh” buatan masyarakat Cepu memiliki kekhasan yang dipastikan berbeda produk serupa di pasaran karena bahan yang digunakan menggunakan waluh atau labu merah. 


Meskipun oleh-oleh khas Blora tersebut mulai dikembangkan selama beberapa tahun terakhir, respon pasar ternyata cukup positif menyusul banyak yang dijajakan di sejumlah mini market maupun tokok penjual makanan yang ada di Blora. Varian rasanya juga mulai dikembangkan tidak hanya mengandalkan rasa khas waluh, melainkan sudah dikembangkan egg roll rasa coklat, durian maupun rasa yang memang menjadi daya tarik pembeli.





Sate Ayam

Selain sate kambing, Blora juga memiliki masakan khas lainnya, yakni sate ayam yang biasanya dipadukan dengan menu masakan lontong tahu atau nasi. 


Sepintas, sate ayam mirip penyajian dari sate khas Madura. Akan tetapi, daging ayam yang digunakan merupakan ayam kampong, sehingga memiliki cita rasa yang lebih lezat. Sedangkan rasa pedasnya bukan berasal dari irisan cabai, melainkan dari sambal yang sudah dicambur dengan bumbu lainnya ketika hendak disajikan.

Sate ayam khas Blora juga mudah ditemui di setiap sudut kota, mengingat tersedia lapak khusus berjualan para pedagang sate ayam maupun satai kambing di Jalan Mr Iskandar, dekat dengan Alun-alun Blora. 






Ukir Tunggak Dan Gembol Jati

Tanaman kayu jati yang terhampar luas di wilayah Blora juga menjadi salah satu kunci, berkembangnya kerajinan yang memanfaatkan akar tunggak pohon kayu jati di berbagai wilayah, khususnya di Kecamatan Jepon dan beberapa kecamatan lainnya.

Akar tunggak jati yang dianggap oleh Perum Perhutani tidak berguna, ternyata memilki nilai ekonomis yang cukup tinggi, setelah menerima sentuhan kreatif para pengrajin.

Kreatifitas para pengrajin, bisa menyulap akar tunggak jati yang tidak beraturan menjadi kursi dan meja yang memiliki bentuk cukup unik dan sulit ditiru serta memiliki nilai seni yang cukup tinggi.
Bukan hanya itu, akar jati juga bisa disulap menjadi hiasan berbentuk bonsai unik, tempat duduk berbentuk jamur, bahkan peminatnya tidak hanya terbatas masyarakat di dalam negeri, melainkan sudah merambah hingga Asia, Amerika dan Eropa. Baca selengkapnya.....




Ad

POTENSI MINYAK BUMI



Berdasarkan konsesi tambang-tambang minyak yang pernah ada di Kabupaten Blora dan data-data pengeboran yang dilakukan kondisi jebakan minyak dan gas bumi yang ada di Kabupaten Blora dapat diperkirakan sebagai berikut: 
a. Konsesi tambang minyak Panolan (Cepu). 
Andrian Stoop, penemu pertama minyak bumi di Cepu melakukan pengeboran pertamanya di Desa Ledok, serta menyimpulkan bahwa di Panolan (Cepu) terdapat Iadang minyak yang berkualitas tinggi dalam jumlah yang besar. Yang termasuk Iapangan Ledok adalah area Getur dan Nglebur jebakan-jebakan minyak di areal Getur dijumpai pada kedalaman � 94 m dan keda!aman antara 239 s/d 245 m. Tahun 1985 dibor sebanyak 252 surnur dengan kedalaman sumur rata-rata antara 90 � 1350 m. Sumur yang menghasilkan sebanyak 207 buah sumur, yang tidak menghasilkan 45 buah sumur. Banyaknya Iapisan yang menghasilkan sebanyak 16 lapisan.

b. Konsesi tambang minyak Jepon.
Pada konsesi ini dilakukan pengeboran yang pertama di lapangan Semanggi (1986) dengan luas produktif area panjang 2,5 km, tebal 0,5 m. Lokasi ketinggian daerah Semanggi + 215 m. Jumlah sumur yang dibor 86 buah sumur, yang produktif menghasilkan minyak 66 buah sumur dan tidak menghasilkan 20 buah sumur, kedalam sumur antara 100 � 1.270 m. Banyaknya Iapisan yang menghasilkan sebanyak 6 Iapisan.  


JATI DENOK YANG MENAWAN





Denok adalah kata yang identik dengan gadis cantik yang mempunyai tubuh sintal padat berisi serta cantik, ungkapan tersebut sangatlah pas jika kita melihat sebatang pohon jati yang tumbuh besar dan kokoh dengan hiasan gambol dikawasan hutan Randublatung yang dinamai Jati denok oleh masyarakat setempat.

Adalah sebutan untuk sebatang pohon setinggi 30 meter yang berada di petak 62 RPH Temetes BKPH Temajang KPH Randublatung yang mempunyai keliling 650cm dan diperkirakan berusia 300 tahun lebih, konon sebutan jati denok masih erat kaitannya dengan sejarah Kedung putri ( nama situs lokal ), pohon tersebut konon diinjak oleh Jonggrang prayungan ketika ia ingin melihat kecantikan putri Citrowati dari negara Purwo carito yang sekarang dikenal dengan Dusun Gumeng.
Baca selengkapnya....





Blora, Negeri Kaya (tapi) Termiskin


Kabupaten Blora adalah kabupaten kecil di ujung timur Jawa Tengah. Kabupaten dengan luas 1.820,59 km² itu memiliki komposisi susunan tanah 56% gromosol, 39%mediteran, dan 5% alluvial. Tanah gromosol cocok untuk pertanian karena berlempung, demikian pula tanah alluvial yang merupakan hasil pengendapan aliran sungai. Berbeda dengan tanah mediteran atau tanah kapur yang tidak subur dan bukan tanah yang baik untuk mengikat air tanah. Keberadaan tanah mediteran yang mencapai 39% luas wilayah menyebabnya sebagian wilayah Blora adalah wilayah yang rawan kekeringan. Itulah sebabnya Blora juga dikenal sebagai daerah sulit air.
Blora terkenal sebagai daerah penghasil  kayu jati dan minyak bumi, karena 49,66% wilayahnya adalah hutan jati dan di salah satu Kecamatan di Blora, yaitu (Blok) Cepu ditemukan cadangan 250 juta barel minyak bumi yang pada tahun 1899 sudah dilakukan ekploitasi. Hanya saja sejak terjadi penjarahan kayu jati, luas hutan jati telah berkurang, sedangkan besarnya cadangan minyak bumi tetap menempatkan Blora (Cepu) sebagai lumbung minyak yang menggiurkan. Heboh kasus Exxon Mobil yang sempat merebak beberapa waktu lalu mengindikasikan hal ini. Baca selengkapnya...


Lazada Indonesia
 
© Copyright 2010-2014 Khas Blora All Rights Reserved.
Template Design by Khas Blora | Modified by Gungs Bisco | Powered by BIGBASS.