Lazada Indonesia
Sabtu, 02 November 2013

Ukir Tunggak Dan Gembol Jati

Tanaman kayu jati yang terhampar luas di wilayah Blora juga menjadi salah satu kunci, berkembangnya kerajinan yang memanfaatkan akar tunggak pohon kayu jati di berbagai wilayah, khususnya di Kecamatan Jepon dan beberapa kecamatan lainnya.

Akar tunggak jati yang dianggap oleh Perum Perhutani tidak berguna, ternyata memilki nilai ekonomis yang cukup tinggi, setelah menerima sentuhan kreatif para pengrajin.

Kreatifitas para pengrajin, bisa menyulap akar tunggak jati yang tidak beraturan menjadi kursi dan meja yang memiliki bentuk cukup unik dan sulit ditiru serta memiliki nilai seni yang cukup tinggi.
Bukan hanya itu, akar jati juga bisa disulap menjadi hiasan berbentuk bonsai unik, tempat duduk berbentuk jamur, bahkan peminatnya tidak hanya terbatas masyarakat di dalam negeri, melainkan sudah merambah hingga Asia, Amerika dan Eropa. Baca selengkapnya.....




Ad

POTENSI MINYAK BUMI



Berdasarkan konsesi tambang-tambang minyak yang pernah ada di Kabupaten Blora dan data-data pengeboran yang dilakukan kondisi jebakan minyak dan gas bumi yang ada di Kabupaten Blora dapat diperkirakan sebagai berikut: 
a. Konsesi tambang minyak Panolan (Cepu). 
Andrian Stoop, penemu pertama minyak bumi di Cepu melakukan pengeboran pertamanya di Desa Ledok, serta menyimpulkan bahwa di Panolan (Cepu) terdapat Iadang minyak yang berkualitas tinggi dalam jumlah yang besar. Yang termasuk Iapangan Ledok adalah area Getur dan Nglebur jebakan-jebakan minyak di areal Getur dijumpai pada kedalaman � 94 m dan keda!aman antara 239 s/d 245 m. Tahun 1985 dibor sebanyak 252 surnur dengan kedalaman sumur rata-rata antara 90 � 1350 m. Sumur yang menghasilkan sebanyak 207 buah sumur, yang tidak menghasilkan 45 buah sumur. Banyaknya Iapisan yang menghasilkan sebanyak 16 lapisan.

b. Konsesi tambang minyak Jepon.
Pada konsesi ini dilakukan pengeboran yang pertama di lapangan Semanggi (1986) dengan luas produktif area panjang 2,5 km, tebal 0,5 m. Lokasi ketinggian daerah Semanggi + 215 m. Jumlah sumur yang dibor 86 buah sumur, yang produktif menghasilkan minyak 66 buah sumur dan tidak menghasilkan 20 buah sumur, kedalam sumur antara 100 � 1.270 m. Banyaknya Iapisan yang menghasilkan sebanyak 6 Iapisan.  


JATI DENOK YANG MENAWAN





Denok adalah kata yang identik dengan gadis cantik yang mempunyai tubuh sintal padat berisi serta cantik, ungkapan tersebut sangatlah pas jika kita melihat sebatang pohon jati yang tumbuh besar dan kokoh dengan hiasan gambol dikawasan hutan Randublatung yang dinamai Jati denok oleh masyarakat setempat.

Adalah sebutan untuk sebatang pohon setinggi 30 meter yang berada di petak 62 RPH Temetes BKPH Temajang KPH Randublatung yang mempunyai keliling 650cm dan diperkirakan berusia 300 tahun lebih, konon sebutan jati denok masih erat kaitannya dengan sejarah Kedung putri ( nama situs lokal ), pohon tersebut konon diinjak oleh Jonggrang prayungan ketika ia ingin melihat kecantikan putri Citrowati dari negara Purwo carito yang sekarang dikenal dengan Dusun Gumeng.
Baca selengkapnya....





Blora, Negeri Kaya (tapi) Termiskin


Kabupaten Blora adalah kabupaten kecil di ujung timur Jawa Tengah. Kabupaten dengan luas 1.820,59 km² itu memiliki komposisi susunan tanah 56% gromosol, 39%mediteran, dan 5% alluvial. Tanah gromosol cocok untuk pertanian karena berlempung, demikian pula tanah alluvial yang merupakan hasil pengendapan aliran sungai. Berbeda dengan tanah mediteran atau tanah kapur yang tidak subur dan bukan tanah yang baik untuk mengikat air tanah. Keberadaan tanah mediteran yang mencapai 39% luas wilayah menyebabnya sebagian wilayah Blora adalah wilayah yang rawan kekeringan. Itulah sebabnya Blora juga dikenal sebagai daerah sulit air.
Blora terkenal sebagai daerah penghasil  kayu jati dan minyak bumi, karena 49,66% wilayahnya adalah hutan jati dan di salah satu Kecamatan di Blora, yaitu (Blok) Cepu ditemukan cadangan 250 juta barel minyak bumi yang pada tahun 1899 sudah dilakukan ekploitasi. Hanya saja sejak terjadi penjarahan kayu jati, luas hutan jati telah berkurang, sedangkan besarnya cadangan minyak bumi tetap menempatkan Blora (Cepu) sebagai lumbung minyak yang menggiurkan. Heboh kasus Exxon Mobil yang sempat merebak beberapa waktu lalu mengindikasikan hal ini. Baca selengkapnya...


Lontong Tahu Blora


Lontong tahu termasuk kuliner yang kerap diburu pelancong yang pergi ke Blora. Lontong Tahu Blora memiliki rasa yang berbeda dengan daerah lain karena citarasa kecap yang dipakai. Para Penjual hanya menggunakan satu merek kecap dari sebuah home industry, tak mau berpaling ke merk dari pabrik, yang terbukti kemurnian bahan-bahan yang digunakan serta bebas dari bahan pengawet.

Sambal lontong tahu banyak menggunakan kacang tanah goreng. Hal ini menjadikan sambal tidak terlalu pedas dan lebih sedap. Lontong di Blora masih dibungkus dengan daun pisang alami, sementara kethoprak telah dibungkus dengan plastik yang banyak mengandung zat kimia yang berbahaya.
Ad

Lontong Opor Kapuan



Perjalanan lumayan panjang dari Cepu ke Kapuan dan harus melewati jejeran tanaman jati tidak terlalu mengecewakan ketika sampai di tempat penjual “Lontong Opor Ibu Pangat - Ngloram Kapuan”. Kenapa begitu? Karena penantian panjang melalui pesanan opor dan lain-lain berakhir dengan mak nyusssss. MAu tahu cerita lengkapnya. Yuuk …saya cerita yang panjang, lengkap dan tentunya mantaaappp.

Semua berawal ketika saya dan teman saya memutuskan liburan akhir tahun pulang kampung ke Cepu. Pada tahu kan dimana Cepu itu. Letak Cepu di Jawa Tengah dan persih berbatasan dengan Jawa Timur hanya dibelah oleh Bengawan Solo sduah sampai kita ke Jawa Timur. Saya nggak cerita urusan geografi tapi lebih cerita soal Lontong Opor Kapuan itu. So …mari dilanjut. Pemilihan Cepu, karena saya dan teman2 bermaksud mampir ke lasem dan Semarang. Itulah sebabnya liburan natal akhir tahun ini saya dan teman-teman memilih Cepu.
Baca selengkapnya... Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com
Jumat, 01 April 2011

KABUPATEN BLORA



Kabupaten Blora, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Blora, sekitar 127 km sebelah timur Semarang. Berada di bagian timur Jawa Tengah, Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.
Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat.
Blok Cepu, daerah penghasil minyak bumi paling utama di Pulau Jawa, terdapat di bagian timur Kabupaten Blora.

GEOGRAFI

Wilayah Kabupaten Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, yang membentang dari timur Semarang hingga Lamongan (Jawa Timur). Ibukota kabupaten Blora sendiri terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara.
Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan, terutama di bagian utara, timur, dan selatan. Dataran rendah di bagian tengah umumnya merupakan areal persawahan.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan daerah krisis air (baik untuk air minum maupun untuk irigasi) pada musim kemarau, terutama di daerah pegunungan kapur. Sementara pada musim penghujan, rawan banjir longsor di sejumlah kawasan.
Kali Lusi merupakan sungai terbesar di Kabupaten Blora, bermata air di Pegunungan Kapur Utara (Rembang), mengalir ke arah barat melintasi kota Purwodadi yang akhirnya bergabung dengan Kali Serang.

Pembagian administratif

Kabupaten Blora terdiri atas 16 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 271 desa dan 24 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Blora.
Di samping Blora, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Cepu, Ngawen, dan Randublatung.

Sejarah Blora

Asal Usul Nama Blora
Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti Lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA.
Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah..
Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata.Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi BALORA dan kata BALORA akhirnya menjadi BLORA.
Jadi nama BLORA berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.
Blora Era Kerajaan dibawah Kadipaten Jipang
Blora di bawah Pemerintahan Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih dibawah pemerintahan Demak. Adipati Jipang pada saat itu bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaan meliputi :
Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri. Akan tetapi setelah Jaka Tingkir ( Hadiwijaya ) mewarisi tahta Demak pusat pemerintahan dipindah ke Pajang. Dengan demikian Blora masuk Kerajaan Pajang.
Blora dibawah Kerajaan Mataram
Kerajaan Pajang tidak lama memerintah, karena direbut oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mtaram bagian Timur atau daerah Bang Wetan.
Pada masa pemerintahan Paku Buwana I (1704-1719 ) daerah Blora diberikan kepada puteranya yang bernama Pangeran Blitar dan diberi gelar Adipati. Luas Blora pada saat itu 3.000 karya (1 karya = ¾ hektar ). Pada tahun 1719-1727 Kerajaan Mataram dipimpin oleh Amangkurat IV, sehingga sejak saat itu Blora berada di bawah pemerintahan Amangkurat IV.
Blora di Jaman Perang Mangkubumi (tahun 1727 – 1755)
Pada saat Mataram di bawah Paku Buwana II (1727-1749) terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mangku Bumi dan Mas Sahid, Mangku Bumi berhasil menguasai Sukawati, Grobogan, Demak, Blora, dan Yogyakarta. Akhirnya Mangku Bumi diangkat oleh rakyatnya menjadi Raja di Yogyakarta.
Berita dari Babad Giyanti dan Serat Kuntharatama menyatakan bahwa Mangku Bumi menjadi Raja pada tanggal 1 Sura tahun Alib 1675, atau 11 Desember 1749. Bersamaan dengan diangkatnya Mangku Bumi menjadi Raja, maka diangkat pula para pejabat yang lain, diantaranya adalah pemimpin prajurit Mangkubumen, Wilatikta, menjadi Bupati Blora.
Blora dibawah Kasultanan Perang Mangku Bumi diakhiri dengan perjanjian Giyanti, tahun 1755, yang terkenal dengan nama palihan negari, karena dengan perjanjian tersebut Mataram terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah Paku Buwana III, sedangkan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwana I. Di dalam Palihan Negari itu, Blora menjadi wilayah Kasunanan sebagai bagian dari daerah Mancanegara Timur, Kasunanan Surakarta. Akan tetapi Bupati Wilatikta tidak setuju masuk menjadi daerah Kasunanan, sehingga beliau pilih mundur dari jabatannya
Blora sebagai Kabupaten
Sejak zaman Pajang sampai dengan zaman Mataram Kabupaten Blora merupakan daerah penting bagi Pemerintahan Pusat Kerajaan, hal ini disebabkan karena Blora terkenal dengan hutan jatinya.
Blora mulai berubah statusnya dari apanage menjadi daerah Kabupaten pada hari Kamis Kliwon, tanggal 2 Sura tahun Alib 1675, atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi, yang sampai sekarang dikenal dengan HARI JADI KABUPATEN BLORA.Adapun Bupati pertamanya adalah WILATIKTA.
Perjuangan Rakyat Blora menentang Penjajahan
Perlawanan Rakyat Blora yang dipelopori petani muncul pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Perlawanan petani ini tak lepas dari makin memburuknya kondisi sosial dan ekonomi penduduk pedesaan pada waktu itu..
Pada tahun 1882 pajak kepala yang diterapkan oleh Pemerintah Penjajah sangat memberatkan bagi pemilik tanah ( petani ) . Di daerah-daerah lain di Jawa, kenaikan pajak telah menimbulkan pemberontakan petani, seperti peristiwa Cilegon pada tahun 1888. Selang dua tahun kemudian seorang petani dari Blora mengawali perlawanan terhadap pemerintahan penjajah yang dipelopori oleh Samin Surosentiko.
Gerakan Samin sebagai gerakan petani anti kolonial lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, yaitu suatu gerakan yang tidak merupakan pemberontakan radikal bersenjata.
Beberapa indikator penyebab adanya pemberontakan untuk menentang kolonial penjajah Belanda antara lain :
Berbagai macam pajak diimplementasikan di daerah Blora
Perubahan pola pemakaian tanah komunal
Pembatasan dan pengawasan oleh Belanda mengenai penggunaan hasil hutan oleh penduduk
Indikator-indikator ini mempunyai hubungan langsung dengan gerakan protes petani di daerah Blora. Gerakan ini mempunyai corak MILLINARISME, yaitu gerakan yang menentang ketidak adilan dan mengharapkan zaman emas yang makmur.

TRANSPORTASI
Blora dilalui jalan provinsi yang menghubungkan Kota Semarang dengan Surabaya lewat Purwodadi. Jalur ini kurang begitu ramai jika dibandingkan dengan jalur Semarang-Surabaya lewat Rembang, karena kondisi jalannya yang kalah lebar.Blora juga dapat dicapai dengan menempuh jalur Semarang - Kudus - Rembang - Blora.
Jalur kereta api melewati wilayah Kabupaten Blora, namun tidak melintasi ibukota kabupaten ini. Jalur tersebut melintas di bagian selatan. Stasiun kereta api Cepu merupakan yang terbesar, dimana berhenti kereta api jurusan Surabaya-Jakarta (KA Sembrani), Surabaya-Semarang (KA Rajawali), serta kereta api lokal Semarang-Bojonegoro (KRD). Blora memiliki juga alat transportasi lainnya seperti dokar,cikar, becak, dan sebagainya.
 
PEREKONOMIAN
Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Blora. Pada sub-sektor kehutanan, Blora adalah salah satu daerah utama penghasil kayu jati berkualitas tinggi di Pulau Jawa.
Daerah Cepu sejak lama dikenal sebagai daerah tambang minyak bumi, yang dieksploitasi sejak era Hindia Belanda. Blora mendapat sorotan internasional ketika di kawasan Blok Cepu ditemukan cadangan minyak bumi sebanyak 250 juta barel. Bulan Maret 2006 Kontrak Kerjasama antara Pemerintah dan Kontraktor (PT. Pertamina EP Cepu, Exxon Mobil Cepu Ltd, PT Ampolex Cepu telah ditandatangani, dan Exxon Mobil Cepu Ltd ditunjuk sebagai operator lapangan, sesuai kesepakatan Joint Operating Agreement (JOA) dari ketiga kontraktor tersebut, Perkembangan terakhir untuk saat ini Plan Of Development (POD)I Lapangan Banyu Urip telah disahkan Menteri ESDM.

Rupa-Rupa
  • Makanan khas Blora adalah: Sate kambing /sate ayam khas blora, lontong tahu, limun kawis, serabi,es cau,keripik tempe garing abiz khas Blora dan moho. Di Blora juga ada makanan khas yang hanya ada pada kawasan hutan Jati yakni ungker ( sejenis kepompong ).
  • Kesenian khas Blora adalah: Barongan, dan Tayub.
  • Tokoh terkenal asal Kabupaten Blora adalah: Pramoedya Ananta Toer, Ali Moertopo, Mukti Ali, LB Moerdani, Aryo Penangsang dan Samin Surosentiko serta Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo( lahir dan besar di Cepu Kab.Blora ).
  • Tempat pariwisata di Kabupaten Blora: Goa Terawang, Waduk tempuran, Wisata Kereta Lokomotif lewat hutan jati.
  • Tanaman hias merupakan bisnis yang menjanjikan di Blora.
  • Sentra kerajinan kayu jati berada di Jepon yang terletak 7 km dari Blora arah ke Cepu.


Ad
Lazada Indonesia
 
© Copyright 2010-2014 Khas Blora All Rights Reserved.
Template Design by Khas Blora | Modified by Gungs Bisco | Powered by BIGBASS.